Thursday, February 03, 2005

Sahabat

Sahabat
Cerpen D. Ariyanto

“Apa kabar Mo..” sapa mujib sambil menyandarkan diri di salah satu pohon rindang. Mujib menarik handuk kecil yang melingkar di lehernya dan mulai menyeka peluh di wajahnya.

“Ma’af ya Mo…aku lama ngga kesini” tangan mujib merogoh saku untuk mengeluarkan sebatang rokok pemberian penumpangnya tadi. Tak lama asap tembakau pun mulai mengebul dari mulutnya.

“Jangan nanya aku dapat berapa penumpang ya Mo, jangan… jangan nanya, kita bicara masa-masa lalu kita yang indah saja ya” buru-buru kalimat itu di keluarkan mujib, sebelum Darmo sahabatnya itu menanyakannya.

Bukan nya Mujib ngga mau menceritakan penghasilannya hari ini, takutnya cerita itu nanti akan membebani Darmo. Bagaimana tidak, sejak pagi mujib dan becaknya ngetem di pojok pasar, baru menjelang tengah hari seorang penumpang memakai jasa nya. Andai sebelumnya mujib sudah mendapat penumpang, kemungkinan besar penumpang itu akan di berikan ke tukang becak lain, atau di tolak secara halus. Coba bayangkan, sudah tujuan nya jauh, membawa barang yang lumayan banyak, ditambah berat badannya yang jauh melebihi berat badan mujib.

Tapi bayangan anak istri nya di rumah, membuat mujib mempersilahkan sang penumpang untuk naik di atas becaknya. Untung saja sang penumpang mengerti akan perjuangan berat paha dan betis mujib, selain pembayaran yang di lebihkan, mujib juga di beri tambahan bonus sebatang rokok.

“Bukan, bukannya aku menyimpan rahasia padamu mo, aku hanya ingin agar kamu tak terlalu memikirkan kami”

Memang sejak muda Mujib dan Darmo adalah dua sahabat yang tak terpisahkan, ke manapun mereka berdua selalu bersama-sama. Hampir tak pernah ada perselisihan antara mereka, Sampai saat Darmo nikah dan punya anak terlebih dulu pun, persahabatan mereka tak berkurang, hampir setiap malam selepas kerja, mereka bercengkrama, bercanda dan bercerita apa saja di belakang rumah Darmo, kadang kadang zaitun, istri darmo membuatkan pisang goreng dan jika hari masih sore, si barikh anak darmo terkadang ikut nimbrung di tengah-tengah mereka dengan ocehan ocehan lucunya.

“Yang penting kami sekeluarga baik-baik saja, dan seperti janjiku padamu Mo, aku tak akan pernah men sia sia kan mereka, Aku masih sahabatmu Mo, bukankah seorang sahabat harus memegang janjinya ? “ kilah mujib kemudian.

Ijasah SMP tidak bisa mereka andalkan untuk memenuhi cita-cita masa kecil mereka, bahkan pabrik-pabrik pun tak memandang sedikitpun ijazah terakhir mereka, sukur-sukur Mujib masih di terima oleh seorang juragan yang punya becak lebih dari sepuluh dan Darmo di ajak seorang tukang untuk membangun sebuah rumah. Toh keduanya tetap tersenyum dan menerima keadaan mereka apa adanya.

“Mo ..kamu masih ingat Mak Nah ? .. itu yang kita biasanya ngutang nasi bungkus dan tehnya, whah warung kecil yang dulu sering kita datangi itu, sekarang berubah menjadi sebuah depot yang ruame….bahkan kata Mak Nah .. dia mau Naik Haji tahun depan… hebat kan Mo “ dengan semangat, Mujib mencoba mengembalikan ingatan sahabatnya dengan kisah-kisah masa muda mereka.

“Oh ya Mo Mak Nah titip salam buat kamu ….dia minta ma’af belum sempat datang kesini lagi…tapi dia janji ke sini sebelum naik haji nanti…” tiba-tiba wajah mujib berubah, raut muka nya berubah menjadi begitu mendung, ingatannya melayang ke lima belas tahun silam.

Saat itu Mujib menjemput Darmo dari tempat kerjanya untuk pulang ke rumah Darmo, Mujib kangen dengan si kecil barikh dan di kotak perbekalan becaknya, Mujib sudah menyiapkan mainan dan makanan untuk barikh.
Tawa canda tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka berdua, terkadang Darmo mengeluarkan nasehat nasehatnya untuk Mujib, yah..Darmo memang lebih tua dari Mujib dan Mujib sangat menyukai petuah petuah Darmo yang sering kali di bungkus dengan lelucon lelucon segar itu.
Perjalanan yang cukup jauh dan hampir mendekati rumah Darmo telah mereka tempuh, Mujib dengan wajah cerianya terus mengayuh becaknya, menyusuri jalanan kota yang sore itu ramai lebih dari biasanya. Walaupun seberapapun jauhnya jalan yang harus di tempuh, tapi Mujib begitu menikmatinya, karena Darmo sahabat nya itu terus menerus berceloteh apa saja.

“Minggir minggir !! ” sebuah teriakan dari belakang, mengagetkan mereka berdua, belum habis kaget mereka, sebuah tendangan dari pengendara motor massa kampanye sebuah partai besar itu, mendarat dari sisi kiri becak Mujib, Mujib berusaha mengendalikan laju becaknya yang oleng akibat tendangan itu, jalannya becak pun tak lagi lurus, tapi cenderung zig zag karena oleng. Rupanya pengendara motor lain dari peserta kampanye itu ada yang terserempet, sumpah serapah dan umpatan mereka tujukan pada mujib, Mujib tak menggubris itu semua, karena kini dia dan darmo sudah ada di tengah-tengah masa kampanye, yang kebanyakan mengendarai motor dengan kecepatan yang tidak lambat dan geberran knalpot yang memekakkan telinga.

“Heii… Tukang Becak Bodoh…. Minggir…!!!” sebuah umpatan kembali menggema di samping telinga Mujib, tapi mujib tetap konsentrasi dengan laju becaknya, rupanya masa kampanye itu merasa jengkel dan sebuah tendangan keras telak mengenai becak mujib.

“Brak !!!” becak mujib pun akhirnya jatuh .. mujib terlempar di pinggir trotoar.
Dengan tertatih mujib bangun dari jatuhnya, tangan kirinya terasa nyeri karena lecet membentur trotoar.
“Darmo… mana darmo ….darmo….darmo !!” mujib teringat sahabatnya, sejak pertama masuk ke tengah-tengah masa kampanye itu, darmo hanya diam berpegangan pada sisi kiri dan kanan becak. Tapi setelah terguling tadi.. dimana sekarang sahabatnya itu.

Di depan, di lihatnya banyak motor peserta kampanye berhenti dan mengerubungi becaknya. Dengan bergegas dan melupakan rasa nyeri di tanganya, Mujib segera melesat menuju lokasi di mana becaknya berada.

Setelah berjuang menyibak-nyibak kerumunan masa kampanye itu, Mujib akhirnya sampai juga di depan becaknya. Ban belakang becak mujib sudah bengkok karena di lindas motor peserta kampanye. Tapi siapa itu, yang telungkup dengan darah mengalir dari kepalanya, di samping becak.

“Darmo… darmo !!” teriak Mujib, karena dia hafal betul dengan baju itu, yah itu Darmo, rupanya saat terjatuh dari becak tadi, Darmo tidak sempat bangkit dan sebuah motor dari peserta kampanye, dengan kecepatan tinggi melindas kepala Darmo.

Seketika Mujib menghentikan sebuah Mikrolet, sambil tergopoh-gopoh Mujib segera menggendong Darmo dan membawanya masuk ke dalam mikrolet untuk menuju rumah sakit. Dalam Mikrolet itu Mujib memandang sedih wajah sahabatnya, Darmo tersenyum dan membisikkan sesuatu kepada Mujib.

Selama seminggu, koran-koran lokal dan nasional memberitakan kejadian tersebut di berita utama mereka. Para petinggi dari partai yang berkampanye pada hari naas itu pun berdatangan, mereka memberi sumbangan kepada istri Darmo. Walaupun jumlah yang di berikan jauh lebih kecil dari yang di beritakan media masa. Ah… sumbangan pun mereka sunat rupanya.Berbondong-bondong orang pun memberi simpati dan belasungkawa kepada keluarga Darmo

“Bahkan aku masih menyimpan potongan Koran itu Mo” tutur Mujib sambil mengeluarkannya dari tas kecil yang selalu di bawa mujib.

“Seorang Kuli Bangunan, menjadi korban kampanye”. Demikian judul koran yang di bawa Mujib.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang sudah lupa dengan kejadian itu. Petinggi partai itu pun, seolah–olah tak mengenal lagi sosok Darmo yang menjadi korban kekerasan masanya.

“Biarlah Mo… mungkin mereka sudah lupa akibat kesibukannya” Mujib mencoba menenangkan Sahabatnya itu.

“Oh ya Mo.. bulan depan Barikh akan masuk ke perguruan tinggi negeri, Zaitun juga aku begitu bangga dengan prestasi prestasi anak kita itu, tentunya kamu juga bangga kan Mo ?, oh ya besok dia dan ibunya akan aku antar kesini Mo” Mujib mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Sahabatnya itu tidak terus menerus larut dalam kisah masa lalu mereka yang sedih. Yah…..Di saat saat terakhirnya, Darmo meminta kepada Mujib untuk menggantikan dia sebagai ayah dan suami dari keluarganya, dan Mujibpun berjanji untuk sekuat tenaga memenuhi permintaan sahabatnya itu.

“Mo…biar kutemani kau tidur siang ini, sebelum sore nanti aku harus pulang” kata Mujib sambil mulai mengatupkan mata yang sudah mulai mengantuk, Pikirannya melayang lagi merangkai ulang kenangan sedih lima belas tahun yang lalu.

Matahari pun makin memancarkan teriknya, tapi rindangnya pepohonan membuat sejuk kompleks pekuburan itu. Angin berdesir lembut, beberapa burungpun hinggap di pepohonan dan sesekali berkicau mengiringi istirahat Sepasang sahabat itu

Thursday, 2 September 2004

0 Comments:

Post a Comment

<< Home